Kemana?
"Yah, kini kalimat itu selalu membayangi langkah ku. Layaknya seseorang yang tidak memiliki arah dan tujuan."
Ketika setiap orang merasa lelah dan memiliki beban, saat itulah waktunya mereka membutuhkan seseorang, mungkin bukan untuk menghilangkannya namun untuk bersandar sejenak beristirahat sebelum berusaha untuk bangkit.
Namun ketika kamu merasa tak ada seseorang pun yang kamu rasa pantas untuk dijadikan tempat bersandar, apa yang kemudian dapat kamu lakukan?
Kemarin malam, saat aku terdiam sendiri menikmati kesendirian di dalam rumah, seseorang yang tidak terduga mengirimkan pesan melalui BBM, dia berkata ia ingin bercerita mengenai hal yang membuatnya sangat bersedih. Bahkan dia bersedia mendatangi bila rumah ku berdekatan dengan kampus. Pada akhirnya cerita yang ingin dia ceritakan harus ditunda sampai kita bertemu.
Selanjutnya ketika aku hendak tidur, kembali seseorang yang tidak terduga mengirim pesan dan ingin menceritakan masalahnya kepadaku. Ia menceritakan semua keluh kesahnya dan meminta pendapatku. Nampaknya masalah kedua temanku hampir mirip, lalu aku memberikan pendapatku dan meminta teman ku untuk mendengarkan sebuah lagu yang mungkin menggambarkan keadaan mereka.
Perasaan senang, lega selalu aku rasakan setiap kali aku selesai mendengarkan setiap orang yang menceritakan masalahnya. Aku senang membantu mereka memberikan saran. Namun, nampaknya bukan untuk saat ini. Aku berusaha memahami perasaan dalam hatiku, aku merasakan ketidakadilan. Bukankah tidak adil, saat aku menjadi tempat bagi seseorang untuk berbagi, akan tetapi aku merasa tidak memiliki tempat yang tepat untuk berbagi. Ketika aku ingin melakukan hal tersebut, bercerita kepada seseorang, bersandar sejenak untuk mendapatkan kekuatan, kemanakah aku seharusnya pergi? Bahkan aku tidak tahu. Dalam hitungan detik kondisi tersebut harus membuat aku menangis di dalam hati. Yah, alasannya hanya satu agar aku tetap terlihat kuat sehingga terkesan aku tidak memerlukan seseorang. Bukan aku tidak memerlukan, namun agar terlihat bahwa sebenarnya aku tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi.
"Kondisi itu membuat aku sangat merasa sendiri dan sepi."
Namun aku kembali berpikir, bukankah lebih baik seperti ini. Aku menjadi rumah bagi diriku sendiri, tanpa harus membangun rumah yang tidak kokoh di luar sana. Setidaknya pemikiran itu membuat aku merasa lebih tenang.
Mungkin benar lebih baik aku menjadi penguat untuk diriku sendiri, daripada aku bersandar pada seseorang yang sebenarnya tidak mengerti bahwa aku sedang bersandar, sehingga ia berdiri dan membiarkan aku terjatuh.
Aku yakin rumah bagi diriku sendiri itu akan sangat kokoh. Sekalipun badai datang menghantam, rumahku akan selalu berdiri dengan sangat kuat karena aku membangun rumah tersebut dengan Yesus sebagai pondasi nya.
Diriku dan Yesus akan bersama-sama menjadi penguat dalam setiap masalah yang datang. Aku akan bersandar pada-Nya, sebab aku tahu Yesus akan menyadari bahwa aku sedang bersandar dan Ia tidak akan berdiri hanya untuk membiarkan aku jatuh, namun Ia akan melindungi dan menjadi perisai ku.
Jesus = Right Place, Right Man, Right Way. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar